SELAMAT DATANG DI BLOG ARYA GIRSANG

Senin, 07 Juni 2010

SALAM SEJAHTERA BAGI KITA SEMUA<





Pergilah jadikanlah semua Bangsa muridKu,,,”

“Hendaklah terangmu bercahaya,,,,



VISI DAN MISI PELAYANAN UKM KMK ITM
Visi : ”Mahasiswa yang berada dalam kegelapan dan menuju kebinasaan sehingga mereka membutuhkan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi dan siap diutus sebagai alumni yang berkualitas, serta menjadi garam dan terang”.


Misi : 1. Penginjilan
2. Pemuridan
3. Pelipatgandaan
4. Pengutusan


Sejarah singkat Perjalanan UKM-KMK ITM menuju KMK mandiri

INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN LADANG PELAYANANKU
Terimakasih Tuhan buat Kampus ini, terimakasih buat orang yang rela memberikan diri untuk mengerjakan pelayanan Tuhan dikampus ini, kiranya KMK menjadi garam dan terang ditengah-tengah kampus ITM khususnya dan ditengah-tengah masyarakat pada umumnya.

Dengan lingkungan kampus yang kurang baik seperti perjudian dan tidak adanya suatu wadah persekutuan bagi mahasiswa/I Kristen di kampus ITM pada saat itu, itulah yang mendorong beberapa dari mahsiswa Kristen ITM untuk peduli terhadap situasi tersebut.Dengan hanya beberapa orang mahasiswa maka dimulailah langkah awal untuk merintis wadah kekristenan di kampus ITM sehingga pada saat itu terbentuklah wadah kekristenan yang diberi nama Himpunan Mahasiswa Kristen ITM (HMK-ITM), dimana pada saat itu kegiatan masih terkonsentrasi pada pelaksanaan hari-hari besar kekristenan saja seperti Natal, Paskah. Beberapa tahun kemudian tepatnya tahun 2000 HMK ITM berganti nama menjadi Kebaktian Mahasiswa Kristen ITM.

KMK ITM dengan pola organisasi yang baru, pada saat itu dirasakan masih sulit untuk memaksimalkan fungsi organisasi karena belum mendapatkan pengakuan dari rektorat secara resmi sehingga banyak tantangan yang harus dihadapi dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan formal, baik dari segi pendanaan, tempat kegiatan / persekutuan dan sosialisasi KMK, dengan kondisi yang sedemikian sulit maka timbullah pemikiran baru dari beberapa orang saudara kita pada saat itu yang perduli akan keberadaan wadah kekristenan di ITM sehingga dengan perjuangan sulit yang tentunya kita yakini berkat pertolongan Tuhan maka keberadaan KMK ada dalam daftar Unit Kegiatan Mahasiswa ITM sehingga sejak saat itu (tahun 2000) KMK ITM resmi menjadi UKM KMK ITM, dan sejak saat itu menurut ukuran tatanan organisasi sekuler secara structural dan administrasi,

UKM KMK ITM mengalami kemajuan yang cukup menggembirakan namun struktur yang baik pun belum menjadi jaminan akan kualitas sebuah pelayanan kalau tidak dibarengi dengan pelaksanaan misi yang jelas untuk mencapai visi yang mulia, hal ini disebabkan masih banyak kegiatan UKM KMK yang pelaksanaannya dianggap sama dengan layaknya sebuah organisasi sekuler, hal ini tidak bisa dihindari karna kondisinya memang masih dalam tahap penataan, pada saat itu diketuai oleh B’Herman Hutajulu. Selanjutnya tahun 2001 diketuai oleh B’Feri Saragih.

Pada periode ini KMK banyak berbenah memperbaiki struktur namun KMK masih banyak mendatangkan SDM dari luar kampus ITM. Pada tahun 2002 kepengurusan di ketuai oleh K’Lidya Siahaan dan pada periode ini KMK belum juga mengalami perubahan signifikan, namun pada masa ini KMK ITM semakin berbenah dan makin dirasakan perlunya KMK ITM dimurnikan dalam kepengurusan dan dalam pelayanan, sehingga bayak hal / perubahan yang terjadi pada masa ini dan hal yang paling mendasar adalah suksesnya KMK mengadakan perubahan sistem pergantian kepengurusan yang pada awalnya menggunakan sistem musyawarah besar KMK ITM (MUBES KMK) menjadi sistem regenerasi formatur, sehingga diharapkan kepengurusan yang terbentuk merupakan orang yang sungguh-sungguh terpanggil untuk melayani maka dihasilkanlah kepengurusan yang baru dengan diketuai B’Saut Hutauruk yaitu pada tahun 2003.


Pada masa ini KMK juga mengalami gejolak dari dalam dan dari luar, dari dalam yaitu adanya sebagian mahasiswa kristen yang tidak setuju dengan perubahan sistem mubes menjadi regenerasi, hal ini disebabkan tidak terdapat kesamaan persepsi dalam menyusun langkah untuk mencapai visi misi KMK. Dari luar KMK sendiri muncul kelompok yang ingin membentuk wadah katolik secara terpisah yang mana sebelumnya kita ketahui bahwa UKM KMK ITM merupakan wadah kekristenan yang oikumenis (bersifat interdenominasi), dalam hal ini semua dapat di selesaikan dengan baik dan pada akhirnya semua masalah dapat mulai menghasilkan SDM yang baru seperti PKPA yang baru dari kampus ITM sendiri dan menempatkan sistem pemuridan sebagai salah satu strategi utama KMK yang juga merupakan salah satu misi KMK.


Selanjutnya pada tahun 2004 kepengurusan diketuai B’Rudi Oktavianus, pada masa ini KMK juga terus mengalami pembenahan sehingga KMK memiliki AKK sejumlah ± 40 orang, selanjutnya pada tahun 2005 pengurus diketuai oleh B’Rudi Tambunan, pada tahun 2006 diketuai oleh B’Simon P Ginting, Selanjutnya tahun 2007 diketuai oleh Riki R.V Tambariki. Dan saat ini tahun 2008 di ketuai oleh Simon P. Malau, dan pada tahun berikutnya diketuai oleh Arya Girsang Sehingga sejak KMK menjadi UKM telah terjadi pergantian kepengurusan sebanyak 10 kali dan saat ini dengan kepengurusan yang lebih solid KMK ITM sudah memiliki AKK sebanyak 63 orang dengan PKK sebanyak 18 orang, yang didukung dengan adanya tempat persekutuan KMK / sektretariat yakni sekretariat 1 di ITM dan sekretariat 2 di Jl.Cemara No. 23 (belakang ITM),


Kiranya nama Tuhan dipermuliakan lewat pelayanan KMK ITM dan makin banyak jiwa yang dimenangkan.. Tuhan memberkati…AMIN.
Note : Hanya untuk kalangan sendiri untuk di sharingkan, diperbanyak

Sabtu, 05 Juni 2010

Penyesalan

. PENYESALAN (Hadiah Sang Ayah) .....

Seorang pemuda sebentar lagi akan diwisuda,sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana, akhir dari jerih payahnya selama beberapa tahun di bangku pendidikan.

Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Ford. Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya. Dia yakin, karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia yakin banget nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu. Dia pun berangan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya,bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan keteman-temannya.

Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya. Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan anaknya, dan betapa dia mencintai anaknya itu. Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,... bukan sebuah kunci ! Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Kitab Suci yang bersampulkan kulit asli, dikulit itu terukir indah namanya dengan tinta emas. Pemuda itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak, "Yaahh... Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan alkitab ini untukku ? " Lalu dia membanting Kitab Suci itu dan lari meninggalkan ayahnya. Ayahnya tidakbisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia berdiri mematung ditonton beribu pasang mata yang hadir saat itu.

Tahun demi tahun berlalu, sang anak telah menjadi seorang yang sukses, dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang yang terpandang. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan dikelilingi istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas. Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa kasihnya pada anak itu. Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam.

Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya. Saat melangkah masuk ke rumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal di situ. Dia merasa sangat menyesal telah bersikap jelak terhadap ayahnya. Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang dirumah itu. Dan ketika dia membuka brankas ayahnya, dia menemukan Kitab Suci itu, masih terbungkus dengan kertas yang sama beberapa tahun yang lalu. Dengan airmata berlinang, dia lalu memungut Kitab Suci itu, dan mulai membuka halamannya. Di halaman pertama Kitab Suci itu, dia membaca tulisan tangan ayahnya, "Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan Tuhan Maha Kaya dari segala apa yang ada di dunia ini"
Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang Kitab Suci itu. Dia memungutnya,.... sebuah kunci mobil ! Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan ! Dia membuka halaman terakhir Alkitab itu, dan menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. dan sebuah kwitansi
pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu. Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok ke dalam. bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga. Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk di samping mobil itu, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang tak mungkin diobati........

------------------------------------

SEBERAPA MAHAL DAN BERHARGANYA KITA PERNAH KEHILANGAN SEBUAH BARANG, NAMUN TAK SEMENYESAL JIKA KITA KEHILANGAN ORANG-ORANG YANG KITA CINTAI
(Sebelum kita meminta maaf padanya)

•»... Kita Selalu Di Beri Kesempatan Yang Baru Oleh Tuhan Untuk Melakukan Sesuatu Yang Benar Dalam Hidup Kita . Tiap Harinya Kita Di Beri Kesempatan Untuk Memperbaiki Kesalahan Kita... Terkadang Kita Selalu Berkata , "MASIH ADA HARI ESOK UNTUK MEMPERBAIKINYA" Tapi, Kita Lupa Akn Satu Hal , Bahwa "KITA TIDAK TAHU SAMPAI... KAPAN KITA HIDUP" Selama Masih Ada Kesempatan , Pergunakanlah Dengan Baik ....

•»... Terhadap Orang Tua Kita Haruslah Berbakti & Berusaha Membahagiakan Mereka....Terhadap Teman Haruslah Saling Membantu & Selalu Bersama Dalam Suka & Duka... Terhadap Adik Haruslah Kita Memberikan Contoh Yang Baik & Selalu Mengingatkan Apabila Mereka Melakukan Kesalahan,... Terhadap Pasangan Hidup Haruslah Setia & Mencintainya Dengan Sepenuh Hati.......

•»... Hargailah Saat2 Terindah Bahkan Terburuk Sekalipun Waktu Kita Bersama Orang2 Yang Kita Kasihi. Karena Disaat Kita Kehilangan Orang Yang Kita Kasihi, Disaat Itulah Baru Kita Menyadari Bahwa Begitu Berharganya Waktu Yang TUHAN Berikan Bagi Kita.. Selamat Menikmati Weekand Bersama Orang2 Yang Kita Sayang & Cinta..

..... JESUS LOVE U ALL ...
  (Di ambil dari Come n follow Jesus)

Jumat, 21 Mei 2010

PEMBINAAN ORANG PERCAYA DALAM KONTEKS GLOBAL
Pendahuluan
Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah menurut rupa dan gambar Allah sendiri (Kejadian 1:26-27). Namun ketika manusia itu memilih untuk memberontak terhadap Allah, rupa dan gambar Allah yang mulia itu menjadi rusak (Roma 3:23). Namun Allah yang penuh kasih mengutus Anak-Nya yang tunggal datang ke dalam dunia untuk menebus manusia berdosa (Yohanes 3:16). Dan setiap orang yang menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi mengalami pemulihan identitas diri yang telah rusak ke identitas asali (Yohanes 1:12; 2 Korintus 5:17). Pertobatan bukan akhir dari kehidupan rohani seseorang melainkan awal kehidupan rohani yang berorientasi ke depan, berupa pembangunan karakter ilahi menuju keserupaan dengan gambar Anak-Nya (Roma 8:28-30).
Pokok-Pokok Dasar Pembinaan Orang Percaya
Menurut KBBI, kata "membina" memiliki arti antara lain "membangun, mengusahakan supaya lebih baik, (sempurna). "Pembinaan" memiliki beberapa arti yaitu proses, cara membina, pembaharuan, penyempurnaan, usaha tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Secara praktis, kata "membina" memiliki banyak persamaan pengertian dengan kata "mendidik, mengkader, mendewasakan, membentuk, memotivasi, memperhaharui, membangun, membimbing, memelihara, dan memimpin." Bertolak dari arti leksikal, jelas bahwa pembinaan berkaitan dengan upaya sadar, terarah, dan terukur serta rangkum dari manusia dengan tingkat kualitas, kuantitas, dan penanganan tertentu untuk membawa perubahan dari suatu kondisi tertentu kepada kondisi baru yang bernilai lebih tinggi.
Pokok-pokok Dasar Pembinaan
1.      Pembinaan dilakukan dalam jemaat
2.      Tujuan pembinaan untuk mendewasakan iman dan sanggup melayani
3.      Proses pembinaan sampai menyerupai Kristus
4.      Dasar pembinaan berpusat pada Kristus dan alkitabiah
5.      Pelayanan pembinaan adalah keseimbangan antara kebenaran dan kasih
6.      Pembinaan adalah saling membangun diantara anak-anak Allah
Dasar Alkitab Tentang Pembinaan Orang Percaya
Dalam Matius 28:19-20 kita dapati Amanat Agung Tuhan Yesus, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman". Satu-satunya keharusan dalam ayat ini adalah "memuridkan." Memuridkan berarti menuntun orang lain untuk menerima Kristus dan menjadikannya pengikut yang setia belajar dari Tuhan. Sebagai amanat, maka Matius 28:19-20 bukanlah suatu pilihan tetapi suatu keharusan; bukan pekerjaan sampingan melainkan pekerjaan pokok. Dari segi praktis, pelayanan seutuhnya terhadap orang percaya ialah mendidik melalui pembinaan iman, dengan tujuan untuk mendewasakan serupa dengan Kristus.
Tugas pembinaan iman orang percaya dijelaskan dalam Efesus 4:11-16 "Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih."
Dari ayat ini ada beberapa pokok pikiran yang akan dijabarkan dan dirangkum sebagai berikut:
  1. Pelayan pembinaan terdapat dalam jemaat terutama mereka yang diberi karunia oleh Allah (ayat 11). Pelayan-pelayan ini adalah hamba Kristus dan bukan pagawai yang diangkat oleh jemaat. Perbedaan karunia merupakan pemberian Allah dan setiap satu karunia tidak lebih mulia terhadap yang lain tetapi semuanya adalah hamba Kristus. Perbedaan karunia hanya pada fungsi dan bidangnya. Kehadiran pelayan-pelayan dalam jemaat untuk melayani dan bukan untuk memerintah (dalam arti yuridis).
  2. Tujuan pembinaan iman orang percaya adalah untuk mendewasakan umat Tuhan supaya mereka sanggup melayani. Kedewasaaan merupakan proses membangun (ayat 12). Allah sendiri adalah yang membangun umat Tuhan oleh pelayanan yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya yang hidup dalam persekutuan dengan Dia.
  3. Target pembinaan orang percaya, adalah kedewasaan setiap orang percaya secara kolektif. Proses pertumbuhan kepada kedewasaan dan kerukunan adalah proses untuk lebih menyerupai Kristus (ayat 13). Menyerupai Kristus adalah satu-satunya tujuan. Untuk menyerupai Kristus tidak dibutuhkan lagi sasaran antara, tetapi semua proses pembinaan itu menuju kepada satu-satunya tujuan. Pertumbuhan (Yunani: Helikia) dalam ayat ini menunjuk kepada perubahan hidup yang menuju kepenuhan Kristus. Kepenuhan Kristus tidak dapat diukur secara kuantitatif, melainkan secara kualitatif yang tampak dari pengenalan akan Kristus dan ketaatannya terhadap Firman Tuhan.
  4. Sifat pembinaan iman orang percaya adalah teologis sehingga dapat menghasilkan murid yang teliti dan bijaksana yang dapat mengenal kebenaran dan menghindari kesalahan (ayat 14).
  5. Efektifitas pembinaan orang percaya. Pembinaan akan lebih efektif jika dapat menggabungkan kebenaran dengan kasih, dan bukan mengorbankan salah satunya. Lebih jauh perlu dipahami bahwa mereka tidak saja mampu menghindari terhadap ajaran sesat tetapi jemaat juga mampu melakukan kebenaran di dalam kasih Kristus (ayat 15).
  6. Hubungan pembina dengan murid dalam pembinaan orang percaya akan berfungsi dengan baik, jika semua unsur tersebut dalam jemaat terlibat. Mereka dapat saling membangun sebagai anak-anak Allah serta menolong satu sama lainnya untuk bertumbuh secara rohani. Jadi tidak ada klaim bahwa pertumbuhan dalam diri orang lain karena seseorang; bukan pula karena rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar saja yang membuat dewasa penuh tetapi sebaliknya semua pelayan Tuhan berperan membawa sesama kepada kedewasaan penuh (ayat 16).
Ruang Lingkup dan Tujuan Pembinaan Orang Percaya
Pembinaan meliputi seluruh lapisan umur dan golongan orang percaya, dimulai sejak seseorang mengalami kelahiran baru dan menjadi anggota keluarga Allah. Pembinaan orang percaya merupakan suatu proses yang bertujuan untuk mencapai perubahan hidup, yang meliputi perubahan pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan perilaku yang dapat digambarkan sebagai kedewasaan dalam Kristus. Sasaran yang hendak dicapai dalam pembinaan meliputi dua segi baik kualitatif maupun kuantitatif. Secara kualitatif berarti setiap orang percaya dapat berbuah banyak dalam kehidupannya (Yohanes 15:8), hidup oleh dan dipimpin Roh Kudus sehingga menghasilkan buah Roh (Galatia 5:22-23). Secara kuantitatif berarti seorang murid harus berlipatganda atau bermultiplikasi (Matius 28:19-20; 2 Timotius 2:2). Hasil dari multiplikasi seorang murid Kristus adalah cara yang sangat efektif untuk menyelesaikan Amanat Agung Tuhan Yesus. Demikian akan terjadi keseimbangan antara pembinaan dan penginjilan.
Pembinaan Orang Percaya Sebagai Proses
Dalam dimensi waktu harus dipahami bahwa pembinaan merupakan proses yang berawal sejak seseorang percaya Yesus dan berakhir sampai orang tersebut meninggalkan dunia ini. Proses pembinaan berarti tanpa waktu terminal. Dalam pelaksanaan proses pembinaan, konsep, hubungan akrab dan peneladanan serta keterlibatan secara aktif dalam berbagai aspek kehidupan sama pentingnya. Hal ini telah dicontohkan oleh Tuhan Yesus terhadap murid-murid-Nya dan Paulus dengan Timotius (2 Timotius 3:10). Hasil pembinaan tidak langsung jadi dalam waktu singkat, melainkan memerlukan waktu, kesabaran, ketekunan serta kesetiaan dalam menghadapi segala tantangan sebagai konsekwensinya mengikut Yesus (Markus 8:34-38).
Filsafat Pembinaan Orang Percaya
Suatu kerangka filosifis teologis yang harus dipegang teguh dalam kerangka pembinaan orang percaya, sebagai berikut:
  1. Metafisik (ultimate reality): Pembinaan berpusat pada Allah yang berpribadi (Kejadian 1:1; Yohanes 1:1).
  2. Epistemologi (ilmu pembenaran). Esensi dari pengetahuan dan cara seseorang mengenal apa yang benar dan salah, bersumber pada penyataan Allah. Iman Kristen meyakini bahwa Alkitab adalah sumber segala kebenaran (Yohanes 8:30-36).
  3. Antropoiogi Kristen berpusat pada gambar Allah. Tiga kebenaran dasar: Pertama, manusia diciptakan menurut peta dan gambar Allah (Kejadian 1:26). Kedua, kejatuhan manusia dalam dosa merusak peta dan gambar Allah itu (Kejadian 3-4:8; Roma 3:23). Ketiga, Yesus satu-satu penebus manusia berdosa dan pemulih identitas manusia ke eksistensi asali (2 Korintus 5:17). Karena pembinaan ditujukan kepada orang yang telah percaya Yesus maka jelas bahwa kelahiran baru harus mendahului proses pembinaan.
  4. Axiologi (nilai) berpusat pada kekekalan. Pembinaan iman bukan untuk hidup di seberang sini tetapi dari sini dan sekaligus berorientasi ke dunia di seberang sana (Roma 8:23).
  5. Tujuan pembinaan berpusat pada Kristus dan keserupaan dengan Kristus ini bukan tujuan utama pembinaan tetapi satu-satunya tujuan pembinaan yang layak dan dihargai oleh Allah (2 Timotius 2:15).
  6. Kurikulum berpusat pada Alkitab. Agenda pembinaan adalah agenda Allah dan Alkitab adalah sumber asasi kurikulum yang memiliki kuasa mendidik.
  7. Metodologi berpusat pada interaksi. Injil memiliki kebenaran otoritatif tetapi metode tidak harus bersifat diktaktorial. Penekanan pada relasi, interaksi, dan komunikasi dalam dinamika pimpinan Roh Kudus merupakan pilihan metode yang tepat dalam mempercakapkan kebenaran Injil.
  8. Disiplin berpusat pada kasih dan bukan pada normatif (hukuman). Etika batiniah melampaui ketaatan moral karena faktor atau peraturan eksternal.
  9. Guru berpusat pada Roh Kudus, bukan pada kepandaian dan kelihaian manusia (pembina).
  10. Evaluasi berpusat pada pertumbuhan yaitu perubahan hidup batiniah (2 Petrus 3:18) yang semakin mengasihi Allah dan sesama. Dan bukan perubahan ke arah pensejajaran pola perilaku lahiriah dengan pembina. Bukan pula perubahan peningkatan muatan kognitif atau kemiripan-kemiripan palsu lainnya.
Kedewasaan Orang Percaya
Kedewasaan orang percaya baik secara pribadi maupun kelompok orang percaya minimal terlihat dalam tiga aspek global:
  1. Kedewasaan (Efesus 4:11-16). Pemantapan pengajaran; pelayanan berskala kecil dan besar serta yang tidak kelihatan.
  2. Hubungan antar pribadi (1 Timotius 1:5) kasih; hati yang suci, iman yang tulus; hati nurani yang murni dalam pikiran, perasaan dan perbuatan.
  3. Moralitas (Ibrani 5:14). Moralitas meliputi hal dimana seseorang dapat membedakan apa yang baik dan yang buruk; dan juga meliputi sejauh mana seseorang dapat memakai panca indera yang dimilikinya untuk mengetahui kehendak Allah dalam hidupnya.
Secara lebih ringkas, kedewasaan itu nyata dalam hal kristalisasi pola keyakinan yang mantap dan teguh yang diikuti oleh pola perilaku yang sesuai dengan pola keyakinan. "Buah" kedewasaan tercermin dalam identitas kekristenan (citra diri dan jati diri ) yang mantap dan diikuti selalu dengan karya yang memuliakan Allah.
Konteks Pembinaan Orang Percaya
Sebelum seseorang, gereja, dan lembaga pelayanan merumuskan program pembinaan sangat perlu memahami konteks pelayanan pembinaan orang percaya itu sendiri, guna mencapai hasil maksimal dari pembinaan. Patut disadari bahwa setiap pribadi orang percaya itu unik dihadapan Allah. Demikian pula setiap kelompok orang percaya juga unik dihadapan Allah. Ini berarti bahwa setiap kelompok orang percaya selalu harus dilihat dalam konteks kebutuhan dan keahlian yang khusus (special context with it's special needs and special abilities), manakala kita memikirkan pembinaan kepada mereka. Dari perspektif Efesus 4:11-16 di atas semakin jelas bahwa baik rasul-rasul, nabi-nabi, pengajar dan lainnya atau lebih tegas setiap karunia yang ada dan dimiliki setiap orang percaya menempati area berkreasi dalam jemaat atau tubuh Kristus untuk pembangunan tubuh Kristus itu sendiri, dengan Kristus sebagai Kepala.
Kata Konteks (context) berasal dari kata Latin "contextere" yang berarti menenun atau menghubungkan bersama (menjadikan satu). Kata benda "contextus" menunjuk kepada apa yang telah ditenun (tertenun), dimana semuanya telah dihubung-hubungkan secara keseluruhan menjadi satu. Pembinaan dalam konteks komunikasi yang perlu dikaji adalah perihal bahasa yang diakrabi, yang tepat, cocok, serasi dengan perasaan, alam pikiran dan pemahaman ikwal keyakinan lama nir alkitabiah dari para petobat baru dan lainnya sehingga pembinaan pada akhirnya dapat terarah dan rangkum mencapai target tranformasi pemahaman nir alkitabiah menjadi alkitabiah. Konteks juga dapat berupa tempat atau lokasi, sosial-psikogis dan kerohanian. Pemahaman tentang konteks pelayanan pembinaan ini kemudian dijadikan input untuk pertimbangan perumusan strategi dan bentuk pelayanan pembinaan orang percaya.
Strategi dan Bentuk Pelayanan Pembinaan Orang Percaya
Apakah yang dimaksud dengan strategi? Strategi adalah suatu cara pendekatan terhadap suatu masalah atau untuk mencapai suatu sasaran. Strategi tidak lain adalah pendekatan global yang berisi deskripsi bagaimana kita akan pergi untuk mencapai sasaran atau memecahkan masalah. Dalam arti khusus startegi adalah suatu upaya untuk mengantisipasi masa depan. Strategi adalah "Our statement of faith" sebagaimana yang kita yakini akan terjadi di hari depan dan bagaimana kita harus pergi untuk mencapai hari depan itu. Strategi memberikan kepada kita suatu "overall sense of direction and cohesiveness". Mengapa perlu memiliki suatu strategi? Strategi memberi kekuatan kepada kita untuk secara sungguh-sungguh berupaya mengenal pikiran Allah dan kehendak Roh Kudus. Hal ini juga menolong kita dalam memutuskan apa yang harus tidak dikerjakan, karena strategi mencakup cara-cara tertentu untuk mengerjakan segala sesuatu secara rangkum, terarah dan terukur.
Berbagai tipe strategi yang perlu diperhatikan adalah:
  1. The standar solution strategy. Tipe ini mengandalkan bahan atau literatur pembinaan standar, dengan pertimbangan bahwa setiap orang dapat membacanya dan meresponnya dan bertumbuh mencapai kedewasaan iman. Problema dari tipe ini adalah perihal standar solusi berupa literatur penuntun orang pembinaan itu ditentukan atas dasar apa. Asumsi bahwa setiap orang dapat merespon atas apa yang ia pelajari sulit dipertanggungjawabkan kebenarannya; tipe strategi ini unadaptable dalam konteks baru.
  2. The being in the way strategy. Pengguna tipe ini berasumsi bahwa strategi pembinaan dan rencana pelayanan pembinaan ke depan itu tidak penting dan tidak diperlukan. Karena tak ada yang baru di bawah matahari ini. Allah akan memimpin dan mengatur segala sesuatu karena pembinaan orang percaya adalah proyek Allah; orang percaya akan menjadi dewasa dan pembinaan selanjutnya akan berjalan secara otomatis.
  3. The plan-so-far strategy. Asumsi dasar tipe ini ialah "we will plan to begin the work and God will do the rest". Jadi fokus pada "awal atau start pembinaan dan bukan pada "yang dihasilkan". Menurut pengguna tipe ini pembinaan itu urusan Tuhan. Dampak penggunaan tipe ini adalah sinkritisme dan sejenisnya.
  4. The unique solution strategy. Asumsi dasar yaitu bahwa setiap orang percaya selalu berhadapan dengan situasi pelayanan pembinaan yang berbeda. Karena itu perlu merumuskan statement of faith untuk konteks yang dihadapi. Dan kita mampu merumuskannya karena Allah memampukan kita menemukan statement of faith melalui firman-Nya. Keunikan statement of faith dari setiap konteks ini akan memampukan pelayan-pelayan dalam melaksanankan pembinaan dan kemitraan dengan Allah sehingga dalam pelayanan pembinaan ini akan memberikan hasil maksimal.
Dari keempat tipe ini tipe 1 dan 3 membutuhkan atau bergantung sepenuhnya pada iman, namun iman yang pasif. Sedang tipe 4 adalah tipe "ideal
Apa yang akan terjadi tanpa strategi? Umumnya orang akan katakan bahwa ia mengerjakan segala sesuatu dengan maksud " to bring the word to this people" atau "laying ... (contohnya Indonesia) at the feet of Christ", hidup adalah Kristus dan mati keuntungan dan lainnya, tetapi tahun demi tahun ditemukan bahwa tidak ada alasan bagaimana mencapainya atau kapan itu diraih. Ini terjadi karena tidak ada strategi yang tepat. Setiap area pelayanan adalah mutlak perlu memiliki statement of strategy yang mencakup baik rencana sasaran jangka panjang dan pendek. Kegagalan dalam mengembangkan statement of strategy akan mengakibatkan Pembina dilapangan berada dalam keraguan untuk mencapai sasaran. Dari uraian ini strategi pembinaan tidak lain harus menggunakan tipe "ideal" yaitu "The Unique Solution Strategy". Prinsip yang patut dipegang teguh untuk perumusan strategi pembinaan ialah bahwa pembinaan dan yang dibina adalah semua orang yang telah lahir baru. Strategi pelayanan yang harus dicanangkan ialah Pembinaan Kontekstual. Dengan "Statement of faith ialah Menolong Orang Percaya bertumbuh Ke Arah Kristus Melalui Pembinaan Kontekstual".
Dari statement of faith ini, kini dapat dirumuskan bentuk-bentuk pelayanan pembinaan kontekstual. Hal prinsip dalam perumusan bentuk pembinaan kontekstual yaitu pemahaman perihal hakekat dan bentuk pembinaan iman, bahwa bentuk-bentuk pembinaan haruslah merupakan sarana dan wahana kondusif, cocok, dan kontekstual guna pencapaian hakekat dan tujuan pembinaan. Prinsip-prinsip dasar dalam perumusan bentuk program pelayanan pembinaan kontekstual yaitu definisikan pembinaan kontekstual dalam arti kebutuhan; rancangkan pembinaan kontekstual dalam nafas doa; laksanakan pembinaan kontekstual dalam kuasa Roh dan evaluasi pelaksanaan pembinaan kontekstual dengan pemikiran Roh. Secara praktis pembinaan orang percaya perlu membuat program pembinaan, yaitu prosedur yang dijadikan landasan untuk menentukan isi dan urutan acara-acara pembinaan yang akan dilaksanakan. Program pembinaan menyangkut: sasaran, isi, pendekatan, dan metode pembinaan.
Sasaran pembinaan harus dirumuskan secara jelas, isi program merupakan terjemahan wajar dari sasaran (koheren), pemilihan pendekatan, atau metode pembinaan yang tepat dan sesuai. Macam pendekatan utama yang sesuai dalam pembinaan yaitu pendekatan informatif (informative approach) dimana pembina aktif peserta pasif), pendekatan partisipatif (partisipative approach) yaitu pembina dan peserta saling belajar bersama, pembina hanya sebagai koordinator meskipun juga wajib memberikan masukan sejauh dibutuhkan oleh tujuan program, pendekatan eksperiensial (experiencial approach) yaitu peserta langsung dilibatkan dalam situasi dan pengalaman dalam bidang yang dijadikan pembinaan, pembina dituntut keahlian tinggi dalam bidangnya serta dapat pula partisipative-experiencial approach.
Relevansi Pembinaan dalam Konteks Persekutuan Mahasiswa Kristen Mahasiswa, Calon Mahasiswa Kristen, dan Mahasiswa Kristen
Pemahaman komprehensif status mahasiswa secara teologis menjadi pertimbangan awal dalam membahas pembinaan mahasiswa. Pertama-tama harus dilihat bahwa semua mahasiswa bukanlah mahasiswa Kristen. Dan bukan semua mahasiswa yang beragama Kristen ialah mahasiswa Kristen. Karena itu pelayanan penginjilan diarahkan kepada mahasiswa dalam status sebagai calon mahasiswa Kristen. Pelayanan pembinaan ditujukan kepadamereka yang telah percaya.
Pembinaan Mahasiswa Kristen
Mahasiswa yang telah percaya dan menerima Yesus itulah menjadi subyek pelayanan pembinaan dan subyek terbina (yang dibina) dalam arti strategis, tanpa memandang bahwa kehadiran pelayan dari luar itu tidak atau kurang berarti. Tetapi kehadiran pelayan pembina dari luar adalah mitra pelayanan dalam konteks pencapaian visi dan misi pelayanan pembinaan mahasiswa.
Konteks Pembinaan Mahasiswa Kristen
Setiap mahasiswa Kristen adalah unik dihadapan Allah. Oleh karena perlu perumusan pelayanan pembinaan yang tepat dalam konteks mahasiswa Kristen. Berbagai konteks mahasiswa diurai kan dibawah ini.
1.        Mahasiswa dalam Konteks Akademis
Mahasiswa adalah Homo Academicus, yaitu peserta didik yang berkesempatan mengembangkan potensi nalar, menjunjung tinggi kejujuran moral akademis, sekaligus calon intelektual yang berpandangan luas. Mereka bukan Homo Mimicrus, yang siap diindoktrinasi dengan harapan mereka dapat meniru dan menjadi tiruan.
2.      Konteks Sosiologis
Mahasiswa merupakan komunitas pemuda elite dibanding pemuda umumnya. Perbedaannya terletak dalam satu hal mendasar: "kepekaan terhadap perubahan suasana." Dalam dirinya selalu ada keinginan untuk mengadakan revisi terhadap harapan sosial yang dikenakan pada mereka; pencarian legitimasi baru dari peranan yang ingin dimainkan serta usaha untuk merumuskan kehadiran diri dalam lingkungan yang mengintari mereka lebih menonjol. Tantangan adalah bagaimana agar secara tepat menolong mahasiswa menuju kedewasaan iman melalui relasi, interaksi, dan komunikasi pembinaan yang ideal sekaligus terbebas dari pencarian legitimasi dan penonjolan diri sebagai elite sosial.
  1. Konteks Religi
Mahasiswa adalah insan yang memasuki tahap perkembangan yang terlepas dari kungkungan sempit tetapi memasuki area dunia nyata dengan wawasan yang luas. Dalam konteks tugas dan panggilan garam dan terang dunia maka peran dan partisipasi mahasiswa harus diperluas dalam segala aspek kehidupan manusia. Implikasi praktis ialah menjadi wadah pembinaan ke atas (peyembahan kepada Allah, ke dalam (pembangunan karakter rohani), dan ke luar (pelayanan kepada masyarakat).
  1. Konteks Etis Moral
Mahasiswa berada dalam situasi yang penuh dengan pilihan moral. Namun yang pokok untuk dijunjung tinggi adalah moralitas kristiani. Hal ini hanya diraih bila mahasiswa telah melampaui dan tiba pada tingkat perkembangan moral tingkat III (Post Konvensional) dalam perspektif Kohlberg. Pandangan Kohlberg, tingkat perkembangan Moral yaitu Pra Moral; Tingkat I, kepatuhan yang orientasi pada pahala dan hukuman. Pada tingkat II kepatuhan berdasar pada teladan dan peraturan. Sedangkan pada Tingkat III orientasi kepatuhan pada dialog dan transaksi antar perseorangan.
  1. Konteks Perkembangan Kognitif
Menurut Jean Piaget, tahap perkembangan kognitif secara berturut-turut dari 0-2 tahun Tahap Sensori Motor: penekanan law of conservation; 2-7 tahun, Tahap Pra Operasional: penggunaan simbol dan bahasa serta komunikasi; 7-11 tahun, Tahap Konkrit Operasional: mencapai kemampuan pikir sistematis logis, perkembangan intelek terhadap hal-hal konkrit; lebih dari 11 tahun, Tahap Formal Operasional: mampu berpikir sistematis logis terhadap hal-hal abstrak, hipotesa serta proyeksi masa depan.
  1. Konteks Pendidikan Orang Dewasa
Usia mahasiswa merupakan suatu usia didik yang berbeda dengan usia sebelumnya. Dalam dimensi ini ada ragam pengalaman emosi, kehendak, akal, dan kompleksnya pengalaman dalam relasi vertikal dengan Tuhan maupun horisontal dengan sesama. Bisa diduga bahwa variasi kondisi kepercayaan (kerohanian) dan perilaku yang dimiliki setiap mahasiswa juga berbeda-beda. Dan bila diteropong secara secara iman, mungkin sistem kepercayaan dan perilaku para mahasiswa itu tidak semuanya sesuai dengan Firman Allah, bahkan mungkin bercampur aduk sehingga sulit diurai, dijernihkan dan diluruskan. Upaya membangun pandangan dunia alkitabiah yang rangkum dan kontekstual tentunya perlu pendekatan yang menekankan partisipasi aktif anggota dalam setiap kesempatan pertemuan guna masing-masing orang dapat "sharing", kemudian diikuti dengan memberi "input" yang baru.
Diambil dari:
Judul jurnal
:
Aletheia, Edisi 02, Tahun II
Judul artikel
:
Pembinaan Orang Percaya dalam Konteks Global
Penulis
:
Ir. Soleman Kawangmani, M.Div
Penerbit
:
Persekutuan Mahasiswa Kristen Surakarta
Halaman
:
23 -- 37



MAKNA KENAIKAN KRISTUS DAN PENTAKOSTA
Pencurahan Roh Kudus yang berawal di hari Pentakosta memberikan suatu makna baru, suatu realitas baru, suatu keyakinan yang baru, mengenai fakta bahwa Kristus telah dimuliakan, juga mengenai kehidupan gereja Perjanjian Baru yang seharusnya. Hal-hal yang tadinya hanya sekedar merupakan fakta sejarah atau pengajaran saja, kemudian menjadi suatu realitas yang mendebarkan bagi setiap orang percaya yang dipenuhi Roh Kudus.
Kristus Menjadi Nyata!
Setelah menerima babtisan Roh Kudus di hari Pentakosta, bangkitlah Petrus dengan kesebelas rasul dan dengan penuh keberanian serta dengan suara nyaring ia berkata, "Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. Dan sesudah Ia (Kristus) ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkannya itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini." (Kisah Para Rasul 2:32-33)
Baptisan Roh Kudus yang baru saja diterima Petrus dan murid-murid yang lain itu, bagi masing-masing merupakan bukti dan jaminan pribadi bahwa Tuhan mereka yang telah bangkit dari kematian itu kini sudah ditinggikan dan dimuliakan disebelah kanan Allah Bapa. 10 hari sebelum mereka berdiri dipuncak bukit Zaitun dan menyaksikan Yesus menghilang di langit (Kisah Para Rasul 1:9). Itulah pertemuan terakhir Yesus dengan murid-murid-Nya melalui indra jasmani mereka. Pada hari Pentakosta 10 hari kemudian, kedatagan Roh Kudus memberikan kembali suatu kontak pribadi yang langsung antar mereka dengan Kistus di loteng rumah, tetapi dengan cara kontak baru. Sekarang mereka masing-masing mengetahui dengan keyakinan yang baru bahwa Juru Selamat mereka yang dihina, telah ditinggikan, dan dimuliakan Bapa di Surga untuk selama-lamanya.
Kristus Naik, Roh Kudus Turun
Selanjutnya Yesus membagikan karunia Roh Kudus yang dijanjikan Bapa itu kepada murid-murid-Nya. Setelah menerima karunia itu para murid-Nya memiliki keyakinan yang bulat bahwa Yesus benar-benar berada di dalam kemuliaan hadirat Bapa, dan memiliki otoritas serta kuasa atas seluruh jagad raya. Dalam surat-suratnnya, rasul Paulus menyatakan tentang kebenaran ini, "dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang." (Efesus 1:19-21)
Juga di dalam Filipi 2:9-10 tertulis, "Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi." Kita dapat membaca pula dalam Ibrani 1:3, "Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan yang Mahabesar, di tempat yang tinggi." Melalui ayat-ayat ini dan ayat-ayat yang lainnya yang mendukung, setiap orang percaya dibawa kepada pengertian bahwa Yesus tidak hanya dibangkitkan dari kematian, tetapi juga telah naik ke Surga dan di muliakan di sebelah kanan Allah Bapa. Kenaikan Kristus dan Pentakosta menegaskan bahwa Roh Kudus tak dapat diberikan kepada gereja sebelum Yesus dimuliakan bersama Bapa di surga.
Mempelajari Hubungan Tritunggal
Di dalam seluruh Perjanjian Baru kita bisa melihat keselarasan dan kerjasama yang begitu sempurna antara ketiga oknum Tritunggal. Ketika Yesus Kristus, salah satu pribadi datang ke dunia, Ia datang sebagai wakil yang berwenang dari Allah Bapa. Ia tidak pernah mencari kehormatan dan kemuliaan bagi diri-Nya sendiri. Namun Ia memuliakan Bapa yang ada di dalam Dia dan bekerja di dalam diri-Nya. Demikian juga setelah menyelesaikan tugas pelayanan-Nya di dunia dan kembali kepada Bapa di surga, Yesus mengirim Roh Kudus sebagai pemberi kepada gereja. Namun demikian Roh Kudus yang juga merupakan salah satu pribadi dari Tritunggal, tidak pernah mencari kemuliaan bagi diri-Nya sendiri. Seluruh pekerjaan Roh Kudus di bumi dan di dalam gereja selalu bertujuan untuk meninggikan, membesarkan, dan memuliakan Dia yang diwakili-Nya, yaitu Yesus Kristus. Yesus sendiri memberikan kesaksian tentang hal ini, "Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku." (Yohanes 16:14-15)
Di sini kita melihat hubungan yang jelas sekali antara ketiga oknum Tritunggal. Bapa memberikan seluruh otoritas, kuasa, dan kemuliaan-Nya kepada Anak-Nya. Selanjutnya Anak itu mengangkat Roh Kudus sebagai Penolong untuk menyingkapkan dan menerjemahkan bagi gereja, segala sesuatu yang Ia terima dari Bapa. Penting sekali untuk menyadari bahwa Roh Kudus pun memunyai kepribadian sendiri, seperti halnya Bapa dan Anak. Namun, pada zaman sekarang ini perlu pula menyadari bahwa Kristus hanya memunyai satu Wakil Pribadi yang berwenang di dalam gereja dan di atas bumi, yaitu Roh Kudus. Pewahyuan mengenai pelayanan Roh Kudus ini memudahkan kita untuk menguji segala sesuatu yang ada di dalam diri orang percaya. Apakah hal itu memuliakan Kristus? Jika jawabannya tidak jelas, kita patut mempertanyakan apakah itu benar-benar pernyataan Roh Kudus atau bukan. Di sisi lain, pewahyuan ini juga menegaskan bahwa Kristus pun tidak akan memberikan otoritas-Nya kepada pelayanan atau kegerakan rohani apapun yang tidak mengakui kedudukan Roh Kudus yang istimewa sebagai Penolong bagi gereja. Kemuliaan Kristus dan pelayanan Roh Kudus saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain!
Sumber asli: Disadur dari buku: "Faedah Pentakosta", Derek Prince
Diambil dari:
Judul majalah
:
abbalove, Edisi Perkenalan 2 -- Mei 1999
Judul artikel
:
Makna Kenaikan Kristus dan Pentakosta
Penulis
:
Tidak dicantumkan
Penerbit
:
abbalove ministries
Halaman
:
5 -- 6

Sabtu, 20 Maret 2010

menghargai diri

Menghargai Diri " Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." Roma 12:1 Ingatlah salah satu benda milik anda yang sangat berharga dalam hidup. Mungkin itu warisan, benda koleksi, perhiasan atau kendaraan. Mungkin anda akan melakukan pengamanan ekstra dan menjaganya dengan sangat hati-hati agar tidak ada orang yang mencurinya. Dan anda akan melakukan apapun itu untuk memastikan benda tersebut tidak tersentuh dan tidak ternoda. Kalau sesuatu terjadi pada benda itu, anda mungkin akan marah, kesal atau sedih. Pikirkan bagaimana anda mengurusnya dan bagaimana anda mengawasi orang lain memperlakukannya. Anda memperlakukan sesuatu yang berharga dengan cara yang sangat berbeda ketimbang benda lain yang tidak berharga. Menghargai diri sendiri adalah salah satu unsur terpenting bagi kesuksesan hidup. Orang akan menjaga dan melindungi dirinya sampai batas dimana dia memandang nilai pribadinya. Orang tidak akan menuangkan alkohol ke mobil mewah mereka, tapi ironisnya dengan leluasa menuangkannya ke dalam tubuh mereka yang lemah. Kita harus selalu mencintai dan menghormati diri kita, sehingga berani mengatakan tidak pada kebiasaan dan perilaku buruk yang bisa merusak diri kita sendiri. Kuduskan diri anda agar Roh Kudus tetap tinggal di dalam diri anda. •» Anda berharga dimata Tuhan, sudah sepantasnya anda menghargai diri anda sendiri karenanya. Selamat Menikmati Weekand Bersama Orang2 Yang Kita Sayang & Cinta.. ♥ JESUS LOVE U ALL...♥

Sabtu, 13 Maret 2010

minggu

selamat hari minggu buat kita semua....!! Met beribadah.Percobaan

Arya Girsang

Arya Girsang

Saribudolok

Saribudolok
Kampung Halaman